TEORI ORGANISASI UMUM 2 (RuaNG LiNGKuP KePeNDuDuKaN) NON AKADEMIS KE 1

Posted: March 18, 2010 in KaMPuS!, MakalaH TeORi oRGaNiSaSi uMuM 2
Tags:

MAKALAH NON AKADEMIS KE 1

“TEORI ORGANISASI UMUM 2”

Dosen pembimbin   : NURHADI

Kelas                             : 2 KA 21

Disusun Oleh              : DEDI IRAWAN            (10108506)


PROGRAM STUDI S-1 SISTEM INFORMASI

GUNADARMA

JL.KH.Noor Ali Kalimalang

Bekasi Telp.(021)88860117

2009

KATA PENGANTAR

Dengan rendah hati penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan paper ini.Maksud dan tujuan dari penulisan paper ini adalah sebagai tugas Non Akademis yang diberikan dosen dalam mata kuliah “TEORI ORGANISASI UMUM 2” untuk membantu mahasiswa pada umumnya dan khususnya penulis sendiri dalam mempelajari ruang lingkup dan bentuk-bentuk analisis ekonomi kependudukan,sehingga mahasiswa lebih mudah mengkaji, memahami, dan menerapkannya.

Makalah ini disusun berdasarkan hasil rangkuman dari beberapa buku sebagai referensi yang membahas tentang ekonomi kependudukan.Meskipun demikian, bukan berarti paper ini sudah cukup sebagai bekal materi mata kuliah.Guna pemahaman lebih lanjut pembaca diwajibkan mengembangkannya sendiri dengan membaca sumber aslinya sebagaimana ditunjukkan pada buku acuan atau mencari sumber yang lain yang lebih lengkap.Sekali lagi ditekankan bahwa paper ini hanya sebagai pemandu, sedangkan pemahaman labih jauh disertakan pada masing-masing pembaca,karena keterbatasan tentang literatur ekonomi kependudukan maka ekonomi kependudukan seringkali diidentikkan dengan ekonomi ketenagakerjaan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyajian ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu mohon dengan sangat kepada semua pihak untuk memberikan komentar, kritik, dan saran demi perbaikan materi dan penyajian makalah ini.

Bekasi,  Maret 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1.PENDAHULUAN

BAB 11. PEMBAHASAN

  1. Pengertian dan Ruang Lingkup Ekonomi Kependudukan
  2. Bentuk-bentuk Analisis Ekonomi Kependudukan
    1. Dampak Dinamika Penduduk terhadap Pembangunan Ekonomi

a)      Posisi Penduduk dalam Teori Pertumbuhan Ekonom

b)      Penduduk Optimal

c)      Teori Batas Pertumbuhan

2. Analisis Ekonomi terhadap Dinamika Penduduk

a)      Ekonomi Mobilitas atau Migrasi

b)      Ekonomi Fertilitas

c)      Ekonomi Mortalitas dan Ekonomi Kesehatan

d)     Ekonomi Penuaan Penduduk

3. Analisis Ekonomi Penuaan Penduduk

a)      Pengertian Penuaan Penduduk

b)      Ekonomi Penuaan Penduduk

BAB 111. PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

Memacu Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi diupayakan untuk mengarahkan pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya pembangunan yang ada dengan memperhatikan basis ekonomi daerah serta memberikan hak dan kesempatan kepada masyarakat luas untuk memiliki akses ekonomi secara proporsional.

Pencapaian Strategi 3 Gerbang Dayaku (Meningkatkan Pembangunan Teritorial)

Pembangunan Teritorial difokuskan pada fokus pembangunan Perdesaan dan perkotaan, agar terjadi keterkaitan (linkage) dan saling ketergantungan (interdependency) baik secara ekonomi, sosio-kultur dan ekologis, serta didukung oleh ketersediaan infrastruktur wilayah yang diaktualisasikan dalam program-program pembangunan. Dalam rangka untuk meningkatkan pembangunan teritorial dilaksanakan prioritas sebagai berikut :

1. Percepatan Pembangunan Perdesaan Fokus :

a)      Membangun kawasan perdesaan melalui peningkatan produktivitas dan keberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan.

b)      Mengelola dan mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam di perdesaan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

c)      Meningkatkan kelembagaan ekonomi, termasuk pasar desa dan lembaga keuangan mikro.

d)      Memenuhi elektrifikasi perdesaan dan sarana komunikasi.

e)      Meningkatkan prasarana dan sarana pedesaan

2. Percepatan Pembangunan infrastruktur dan ketersediaan energi Fokus :

a)      Meningkatan kualitas dan kuantitas jaringan jalan dan jembatan.

b)      Meningkatkan cakupan layanan kebutuhan air bersih.

c)      Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya.

d)      Meningkatkan kapasitas Suplai Energi dan Perluasan Pelayanan Energi Listrik.

e)      Meningkatkan sarana dan prasarana serta fasilitas perhubungan

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian dan Ruang Lingkup Ekonomi Kependudukan

Ekonomi kependudukan pada dasarnya memiliki dua aspek pengertian.Pertama,ekonomi kependudukan adalah ilmu yang mengkaji tentang bagaimana dampak ekonomi yang ditimbulkan dari dinamika penduduk.Kedua,ekonomi kependudukan adalah ilmu yang menganalisis dinamika penduduk dengan menggunakan “peralatan ekonomi”.Pengertian dinamika penduduk sendiri mencakup perubahan jumlah,struktur dan persebaran penduduk yang diakibatkan oleh variabel fertilitas,mobilitas dan mortalitas.Pada pengertian pertama,ekonomi kependudukan mengkaji tentang “posisi”penduduk dalam pembangunan ekonomi,baik di tingkat mikro maupun di tingkat makro.

Berbagai teori ekonomi mencoba menjelaskan tentang posisi penduduk dalam pembangunan ekonomi. Secara umum “penduduk” ditempatkan sebagai (a) input produksi dalam konteks menyediakan tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi, dan; (b) sebagai konsumen yang menggunakan berbagai sumberdaya ekonomi.Sebagai input produksi,posisi penduduk dalam pembangunan ekonomi diredusir dalam kaitan dengan penyedia tenaga kerja.Itulah sebabnya ekonomi kependudukan pada dasarnya juga mencakup ekonomi ketenagakerjaan.Dalam banyak hal analisis ekonomi ketenagakerjaan bahkan lebih maju dibanding dengan ekonomi kependudukan dalam pengertian yang luas.Demikian berkembangnya analisis ekonomi ketenagakerjaan sehingga muncul kesan seolah-olah ekonomi ketenagakerjaan menjadi suatu disiplin tersendiri yang terlepas dari ekonomi kependudukan.Sebagai konsumen,penduduk memiliki peran “menghabiskan” sumberdaya ekonomi yang tersedia.Padahal sumberdaya yang tersedia jumlahnya amat terbatas,dibanding jumlah penduduk yang terus meningkat.Dalam kaitan ini ekonomi kependudukan mengkaji tentang dampak ekonomi yang ditimbulkan dari meningkatnya jumlah,struktur dan persebaran (dinamika) penduduk. Berbagai kajian telah dilakukan oleh banyak ahli dalam kaitan tentang hal ini.Pada perkembangan selanjutnya kajian ekonomi terhadap terbatasnya sumber daya alam relatif dibanding dengan meningkatnya jumlah penduduk lebih banyak dibahas dalam ekonomi lingkungan.Kajian tentang dampak ekonomi dari dinamika penduduk kemudian berkembang dengan melihat karakteristik ekonomi penduduk.Persoalan-persoalan seperti kemiskinan,ketimpangan distribusi pendapatan dan sebagainya pada awalnya sebenarnya merupakan juga ekonomi kependudukan.Kajian-kajian tersebut kemudian terus berkembang sampai akhirnya muncul sebuah kajian tersendiri yang dinamakan dengan ekonomi pembangunan (development economics).

Kajian ekonomi pembangunan bermula dari ketertarikan para ekonom negara maju untuk menganalisis ekonomi negara berkembang yang memiliki karakteristik penduduk berbeda dengan negara maju1.Dengan demikian pada aspek pertama, pengertian ekonomi kependudukan padadasarnya mencakup tema-tema yang dibahas dalam ekonomi ketenagakerjaan,ekonomi lingkungan dan ekonomi pembangunan.Namun karena kajian tentang ekonomiketenagakerjaan,ekonomi lingkungan dan ekonomi pembangunan sudah demikian maju maka tema-tema yang diangkat dalam ekonomi kependudukan mengambil topik yang lebih spesifiik lagi menyangkut variabel dinamika penduduk yaitu migrasi, mobilitas,ageing dan sebagainya.Pada pengertian kedua penduduk tidak hanya sebagai “bagian pasif ” dari analisis ekonomi melainkan sebagai “subyek yang dikaji” dengan menggunakan peralatan ekonomi.Topiknyapun lebih spesifik,tidak hanya terbatas pada jumlah penduduk tetapi lebih tajam lagi terhadap (a) struktur dan persebaran penduduk,serta; (b) variabelvariabel dinamika penduduk yaitu fertilitas, mobilitas dan mortalitas. Dalam pengertiankedua ini,ekonomi kependudukan menganalisis “dinamika penduduk” (fertilitas, mobilitas,mortalitas dan struktur penduduk) dengan menggunakan “peralatan ekonomi”.Dalam pengertian kedua ini ekonomi kependudukan dapat dikatakan menampilkan wajahnya sendiri.Dalam pengertian ini topik-topik yang dibahas dalam ekonomi kependudukan betul-betul berkaitan erat dengan variabel dinamika kependudukan seperti fertilitas,mobilitas dan mortalitas.

Beberapa pertanyaan besar yang dicakup dalam ekonomi kependudukan antara lain adalah:

  1. Bagaimana mengkaji fertilitas dengan menggunakan peralatan ekonomi atau dikaitkan dengan isu-isu ekonomi?
  2. Bagaimana mengkaji mobilitas dengan menggunakan peralatan dan perspektif ekonomi?
  3. Bagaimana mengkaji mortalitas dengan menggunakan perlatan ekonomi?
  4. Bagaimana mengkaji perubahan struktur umur penduduk (ageing) dalam kaitan dengan isu-isu ekonomi?

Bagan 1 berikut ini barangkali dapat memperjelas tentang pengertian dan ruang lingkup ekonomi kependudukan:

gambar1

Pada Jalur A,ekonomi kependudukan menganalisis fertilitas,mobilitas dan mortalitas dengan pendekatan, konsep dan peralatan ekonomi.Garis Jalur B menunjukkan bahwa ekonomi kependudukan mengkaji tentang dampak dari perubahan jumlah,struktur dan persebaran penduduk terhadap pembangunan ekonomi.Pada mulanya kajian ekonomi kependudukan lebih banyak membahas tentang Jalur B yaitu bagaimana dampak perubahan jumlah penduduk (tenaga kerja) terhadap pembangunan ekonomi.Itupun kajiannya lebih banyak pada perubahan jumlah penduduk,belum tajam terhadap struktur dan persebaran.Pada perkembangan berikutnya ekonomi kependudukan lebih banyak menganalisis pada Jalur A yaitu menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan fertilitas,mobilitas dan mortalitas dengan menggunakan pendekatan,konsep dan peralatan ekonomi.

2.Bentuk-bentuk Analisis Ekonomi Kependudukan

    1. Dampak Dinamika Penduduk terhadap Pembangunan Ekonomi.

Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa pada awalnya ekonomi kependudukanlebih membahas tentang “dampak dan posisi penduduk dalam pembangunan ekonomi”.Dalam analisis ini penduduk diposisikan sebagai “input produksi” dan “konsumen”sumber daya. Bagian ini akan menjelaskan secara sekilas tentang kajian-kajian yangberkaitan dengan posisi dan dampak (dinamika) penduduk dalam pembangunan ekonomi.

a)      Posisi Penduduk dalam Teori Pertumbuhan Ekonomi

Analisis ekonomi tentang posisi penduduk sebenarnya sudah dimulai sejak Adam Smith (1723-1790) yang mengemukakan bahwa sistem produksi suatu negara terdiri daritiga unsur pokok yaitu (I) sumber-sumber manusiawi (jumlah penduduk); (ii) sumbersumber alam,dan; (iii) stok kapital yang ada.Menurut Smith sumber-sumber alam yang tersedia merupakan batas maksium bagi pertumbuhan perekonomian.Namun Smith kurang menekankan aspek penduduk,dengan menganggap bahwa penduduk memiliki peran “pasif” yang hanya berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja dalam proses produksi(pertumbuhan ekonomi).Analisis posisi penduduk dalam pembangunan ekonomi makin berkembang sejalan dengan munculnya teori pertumbuhan ekonomi.Dalam teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh berbagai ekonom selalu disinggung tentang posisi (jumlah) penduduk dalam pembangunan ekonomi. Sebab pertumbuhan ekonomi sendiri selalu terkait dengan jumlah penduduk. Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang.Kata “perkapita” menunjukkan ada dua sisi yang perlu diperhatikan yaitu sisi output total-nya (GDP) dan sisi jumlah penduduknya.Dengan demikian proses kenaikan output perkapita, tidak bisa tidak,harus dianalisa dengan jalan melihat apa yang terjadi dengan output total di satu pihak, danjumlah penduduk di pihak lain.Suatu teori pertumbuhan ekonomi yang lengkap haruslah dapat menjelaskan apa yang terjadi dengan GDP total dan apa yang terjadi dengan jumlah penduduk. Dengan kata lain, teori tersebut harus mencakaup teori mengenai pertumbuhan GDP total dan teori mengenai pertumbuhan penduduk.Hanya apabila kedua aspek tersebut bisa dijelaskan,maka perkembangan output perkapita bisa dijelaskan2.

Para ekonom yang mencetuskan teori pertumbuhan ekonomi selalu menempatkan faktor penduduk dalam analisis pertumbuhan ekonomi.Box 1 secara sekilasmenunjukkan “posisi penduduk” dalam beberapa teori pertumbuhan ekonomi (mazhab analitis bukan historis) mulai dari Adam Smith hingga Harod-Domar.Deskripsi tentang posisi penduduk dalam teori ekonomi juga telah dilakukan Ananta dalam bukunya Mutu Modal Manusia: Suatu Pemikiran Mengenai Kualitas Penduduk.Bab 1 dari buku tersebut menguraikan khusus tentang posisi penduduk dalam berbagai teori ekonomi.Perhatian terhadap penduduk berfluktuasi dari teori ekonomi yang satu ke teori ekonomi yang lain.Namun umumnya penduduk dianalisis sebatas sebagai penyedia tenaga kerja.Itulah sebabnya maka ekonomi ketenagakerjaan yang menganalisis penawaran dan permintaan tenaga kerja mengalami perkembangan yang cukup pesat.Ekonom jaman Klasik umumnya lebih memperhatikan peran penduduk dalam pertumbuhan ekonomi.Pada model klasik variabel pekerja mempunyai peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi.Perhatian ini berlangsung hingga jaman Keynes.Keynes juga melihat penduduk dalam kaitan dengan employment .Keynes membahas permintaan tenaga kerja secara lebih mendalam dibanding penawaran pekerja.Posisi penduduk dalam kajian ekonomi kemudian “hilang” sejak Hicks dan Hansen mengajukan model IS-LM.Di sini pasar kerja hilang dari analisis.Sejak itu analisis ekonomi (khususnya ekonomi makro) kehilangan minat pada masalah penduduk.Masalah kependudukan seakan-akan bukan lagi bidang yang perlu ditekuni oleh ekonom.Kerangka IS-LM sempat mendominasi buku teks ekonomi makro hingga awal dasawarsa tujuh puluhan.Perhatian ekonom terhadap masalah penduduk kembali muncul ketika para ekonom negara maju tertarik pada perekonomian negara berkembang.Kajian ekonomi di negara berkembang kemudian dikaitkan dengan kondisi dan dinamika penduduk negara tersebut.Muncullah kemudian kajian yang khusus membahas tentang ekonomi pembangunan (development economics) yang sebagian isinya mengkaji masalah-msalah kependudukan dari perspektif ekonomi.

b)      Penduduk Optimal

Analisis tentang dampak ekonomi dari dinamika penduduk juga dikemukakan oleh Alfred Sauvy dengan terminologi-terminologinya yang cukup terkenal tentang maximum population, minimum pulation, optimum population dan optimum economy.Menurut Sauvy,semua kehidupan spesies termasuk spesies manusia akan terus bertambah,beberapa spesies bahkan tumbuh sangat cepat. Namun demikian bertambahnya spesies dibatasi oleh kemampuan lingkungan.Karena itu spesies tidak dapat bertambah tanpa batas. Pertumbuhan spesies akan dibatasi oleh dua jenis pembatas yaitu (a) batas fisik (physical ceiling) yang diartikan sebagai the total weight of the various elements making up the environment cannot be exceeded; dan (b) batas bio-kimia (biochemical ceiling) yaitu bobot materi biologi atau biomass yang tidak dapat dihasilkan sendiri oleh sepesies bersangkutan.Batas bio-kimia biasanya jauh lebih rendah dibanding batas fisik.

Kedua batas tersebut tidak menghentikan pertumbuhan spesies secara tiba-tiba,melainkan secara perlahan ketika batas itu dilampaui akibat pertumbuhan spesies.Ketika spesies meningkat jumlahnya, kelembaman (the inert) lingkungan melawan pertumbuhan tersebut berlangsung lebih kuat. Tetapi kemudian spesies menggandakan upayanya(melalui eksploitasi berlebihan),sehingga menyebabkan lingkungan bertambah rusak dan menyerah pada tahap subsisten.Namun perlawanan lingkungan terus berlanjut sampai pada batas dimana jumlah makanan yang dibutuhkan spesies tidak lagi mencukupi.Akibatnya,spesies terpengaruh antara lain dengan meningkatnya mortalitas.

Jika diasumsikan benefit yang diberikan lingkungan konstan maka apa yang terjadi dapat dilihat dari dua sisi:

  1. Pandangan dari aspek ekonomi:

ketika penduduk meningkat, jumlah persedian (supply) per individu menurun disebabkan sumberdaya alam yang terbatas.

2.Pandangan dari aspek biologi

penurunan persediaan menyebabkan mortalitas meningkat dan fertilitas menurun (dengan mengabaikan aspek migrasi).

Secara singkat pengertian penduduk optimal dapat diterangkan melalui grafik berikut:

Penduduk Optimal: Pertumbuhan Penduduk & Produksi

Keterangan:

Y = jumlah output

N = jumlah penduduk

Gambar di atas memperlihatkan hubungan antara pertumbuhan jumlah penduduk dengan pertumbuhan produksi.Sampai titik A,kenaikan jumlah penduduk menyebabkan naiknya jumlah barang dan jasa dengan tingkat kenaikan yang makin tinggi. Setelah titik A terlampaui, tetepi titik B belum terlewati, kenaikan jumlah penduduk masih dibarengi dengan kenaikan jumlah barang dan jasa walaupun peningkatannya mulai turun.Setelah titik B terlewati,kenaikan jumlah penduduk masih meningkatkan jumlah barang dan jasa,namun produksi rata-rata mulai menurun.Setelah melalui titik C,kenaikan jumlah penduduk tidak sekedar menurunkan produksi rata-rata,melainkan juga menurunkan produksi total.Titik B pada gambar diatas menunjukkan jumlah penduduk optimal(optimal population) yaitu jumlah penduduk yang menghasilkan produksi perkapita yang tinggi.Jumlah tersebut dikatakan optimal dalam arti tidak ada perubahan baik dalam jumlah dan mutu unrenewable resources maupun tersedianya modal fisik.

c)      Teori Batas Pertumbuhan

Senada dengan kecemasan Malthus dan teori Penduduk Optimal,pada tahun 1972 terbit sebuah buku yang amat populer yang mengkaji dampak dari pertumbuhan penduduk yang demikian cepat6.Buku The Limits to Growth membahas tentang berbagai keterbatasan kemampuan sumberdaya dalam menyediakan berbagai kebutuhan akibat pertumbuhan penduduk yang demikian cepat.Ide buku ini pada dasarnya sejalan dengan asumsi Malthus yang menyatakan bahwa penduduk tumbuh menurut deret ukur (exponential growth) sementara pangan tumbuh secara deret hitung (linear growth). Bedanya, analisis dalam buku ini lebih tajam dan luas dengan dilengkapi data dan model analisis yang disebut sebagai “model dunia”.Model dunia yang dipakai dibuat khusus untuk meneliti lima kecenderungan utama yangdihadapi dunia yaitu

(a) industrialisasi yang makin cepat;

(b) pertumbuhan penduduk yang makin cepat;

(c) kurang gizi yang merajalela;

(d) makin susutnya unrenewable resources, dan;

(e) lingkungan hidup yang makin rusak.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut berdampak pada makin pendeknya jangka waktu yang ditempuh untuk mencapai jumlah dua kali lipat (doubling time).Tahun 1650 penduduk dunia diperkirakan berjumlah 0,5 milyar dengan laju pertumbuhan sekitar 0,3% per tahun.Dengan demikian waktu yang diperlukan sehingga jumlah penduduk dua kali lipat (doubling time) sekitar 250 tahun. Namun pada tahun 1970 penduduk dunia berjumlah 3,6 milyar dengan laju pertumbuhan sekitar 2,1 per tahun.Dengan tingkat pertumbuhan sebesar itu maka doubling time-nya menjadi 33 tahun.

2.Analisis Ekonomi terhadap Dinamika Penduduk.

Analisis ekonomi kependudukan tidak saja terbatas pada dampak (akibat) pertumbuhan jumlah penduduk terhadap makin susutnya sumber-sumber ekonomi tetapi juga menganalisis sebab-sebab terjadinya dinamika penduduk dari sudut pandang ekonomi.Berbagai komponen dinamika penduduk yaitu fertilitas, migrasi dan mortalitas dianalisis dengan menggunakan pendekatan, konsep dan peralatan ekonomi.Dinamika penduduk tidak saja dilihat dari aspek jumlah total tetapi juga dianalisis dari aspek struktur dan persebaran.Analisis ekonomi kependudukan kemudian meluas ke berbagai aspek yang lebih fokus seperti ekonomi fertilitas, ekonomi mobilitas, ekonomi ketenagakerjaan,ekonomi kesehatan dan sebagainya.

a)      Ekonomi Mobilitas atau Migrasi

Analisis ekonomi terhadap mobilitas/migrasi penduduk umumnya menyangkut tentang dua hal yaitu yang berkaitan dengan (a) motif seseorang melakukan mobilitas atau migrasi, dan; (b) dampak ekonomi dari mobilitas/migrasi penduduk.Analisis ekonomi terhadap migrasi sudah dimulai sejak Ravenstein (1889)mengemukakan pendapatnya tentang “hukum migrasi”. Berdasarkan hasil studinya di negara-negara Eropa, Ravenstein menyatakan bahwa motif ekonomi merupakan pendorong utama seseorang melakukan migrasi. Sampai sekarang, dalam banyak studi juga ditemukan bahwa faktor ekonomi merupakan alasan utama orang melakukan migrasi. Studi Lasing dan Mueller juga menemukan sekitar 62 persen dari responden menyatakan bahwa faktor ekonomi (yang berhubungan dengan pekerjaan dan pendapatan) merupakan alasan utama mereka melakukan migrasi. Caldwell (1970) dalam studi migrasi di Ghana, mendapatkan 82 persen dari responden migran di kota dan 88 persen responden di desa yang merencanakan migrasi ke kota, menyatakan alasan utama migrasi adalah untuk mendapatkan pekerjaan dan uang yang lebih banyak.

b)      Ekonomi Fertilitas

Analisis ekonomi fertilitas berkembang sejak awal tahun 1960-an dengan munculnya makalah Gary S. Becker “An Economic Analysis of Fertility”. Makalah Becker tersebut barangkali merupakan tulisan pertama yang menganalisis fertilitas dalam kerangka analisis ekonomi. Menurut Becker anak dari sisi ekonomi pada dasarnya dapat dianggap sebagai barang konsumsi (a consumption good, consumer’s durable) yang memberikan suatu kepuasan (utility) tertentu bagi orang tua.Bagi banyak orang tua, anak merupakan sumber pendapatan dan kepuasan (satisfaction).Secara ekonomi fertilitas dipengaruhi oleh pendapatan keluarga, biaya memiliki anak dan selera.Meningkatnya pendapatan (income) dapat meningkatkan permintaan terhadap anak11.Karya Becker kemudian berkembang terus antara lain dengan terbitanya buku A Treatise on the Family.

c)      Ekonomi Mortalitas dan Ekonomi Kesehatan.

Ekonomi mortalitas merupakan topik yang amat langka atau amat jarang dibahas.Tulisan-tulisan yang membahas tentang ekonomi mortalitas sulit ditemukan. Hal itu bias dimengerti karena “mati” pada dasarnya bukan merupakan suatu “pilihan”. Padahal pilihan atau pilih memilih merupakan hal penting dalam ekonomi.Dalam ekonomi fertilitas dibahas tentang pertimbangan-pertimbangan ekonomi mengapa seseorang memilih memiliki anak atau tidak.Dalam ekonomi migrasi dibahas tentang pertimbangan-pertimbangan ekonomi mengapa seseorang memilih bermigrasi atau tidak.Namun dalam kaitan ekonomi mortalitas tidak mungkin dibahas mengapa seseorangmemilih mati atau tidak. Sebab mati pada dasarnya bukan merupakah pilihan. Yang menjadi pilihan bukan mati, melainkan sakit atau sehat. Oleh karena itu analisis yang berkembang bukan ekonomi mortalitas melainkan ekonomi kesehatan. Dalam ekonomi kesehatan dibahas tentang apa implikasi ekonomi dari sakit, berapa biaya yang harusdikeluarkan jika seseorang sakit, bagaimana menanganalisis investasi di bidang kesehatan dan sebagainya.

d)      Ekonomi Penuaan Penduduk.

Aspek lain yang belakangan mendapat perhatian luas dalam ekonomikependudukan, terutama di negara maju, adalah ekonomi penuaan penduduk (economics of ageing population). Ekonomi penuaan penduduk antara lain membahas tentang konsekuensi-konsekuensi ekonomi yang ditimbulkan dari proses penuaan penduduk.Termasuk didalamnya dibahas tentang pajak, transfer antar generasi, social security system dan sebagainya. Uraian lebih lanjut tentang ekonomi penuaan penduduk dapat dilihat dalam sub bab berikutnya. Makin berkembangnya berbagai topik-topik analisis ekonomi kependudukan tersebut turut melatar belakangi terbitnya suatu jurnal khusus tentang analisis ekonomi kependudukan yaitu Journal of Population Economics. Sejak terbit tahun 1988, cukup banyak hasil analisis ekonomi kependudukan yang telah disajikan. Dalam konteks ini dapatlah disebut bahwa perkembangan analisis ekonomi kependudukan dapat diikuti melalui jurnal dimaksud.

Bentuk-bentuk analisis ekonomi kependudukan yang diperoleh dari studi serial terhadap Journal of Population Economics dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok topik sebagai berikut:

  1. Analisis Ekonomi Fertilitas.
  2. Analisis Ekonomi Mobilitas.
  3. Analisis Ekonomi Mortalitas.
  4. Analisis Ekonomi Perkawinan dan Rumah Tangga.
  5. Analisis Ekonomi Penuaan Penduduk.
  6. Analisis Ekonomi Ketenagakerjaan.
  7. Analisis Ekonomi Kependudukan secara Umum.

Dari berbagai analisis tersebut ternyata topik “Ekonomi Fertilitas” dan “Ekonomi Penuaan Penduduk” merupakan topik yang amat banyak ditulis oleh berbagai ahli. Sementara topik ”ekonomi mortalitas” merupakan topik yang jarang sekali ditulis.Sedikitnya tulisan yang mengkaji topik “ekonomi mortalitas” tampaknya berkaitan dengan sulitnya pengembangan kajian ekonomi mortalitas dikarenakan “mortalitas” atau “mati” bukanlah merupakan “pilihan” manusia. Yang menjadi “pilihan” manusia bukannya “mati” melainkan “sehat” (morbidity). Itulah sebabnya yang berkembang bukannya “ekonomi mortalitas” melainkan “ekonomi kesehatan”. Pada dasarnya ekonomi kesehatan juga termasuk dalam lingkup ekonomi kependudukan. Namun karena penerapannya agak khusus dibanding ekonomi fertilitas, ekonomi mortalitas atau ekonomi migrasi maka “ekonomi kesehatan” menjadi bahasan tersendiri. Dalam banyak hal, kajian tentang ekonomi kesehatan justru lebih maju dibanding ekonomi kependudukan. Mungkin karena jurnal yang mengkaji topik-topik ekonomi kesehatan sudah ada maka Journal of Population Economics (sejak 1988-1993) tidak pernah menyajikan topik tentang ekonomi kesehatan.Analisis ekonomi terhadap “mobilitas/migrasi” dan “ketenagakerjaan (labor)” juga relatif jarang (dibanding analisis terhadap fertilitas dan ageing) disajikan dalam Journal of Population Economics selama sekitar 7 tahun (1988-1994) masa penerbitannya. Relatif jarangnya kedua topik tersebut disajikan dalam jurnal tersebut bukan karena sulitnya mengembangkan kedua topik seperti pada topik ekonomi mortalitas melainkan diduga karena sudah ada jurnal khusus yang membahas secara tersendiri tentang “migrasi” dan “labour economics”. Topik-topik yang membahas migrasi antara lain dapat diikuti melalui jurnal International Migration Review. Sedang topik yang membahas tentang ekonomi ketenagakerjaan antara lain dapat diikuti melalui jurnal International Labour Review dan Journal of Labour Economics.Banyaknya topik ekonomi fertilitas yang disajikan dalam Journal of Population Economics bisa dipahami mengingat fertilitas merupakan topik tua dalam analisis kependudukan. Dan meskipun dengan nuansa yang berbeda ternyata fertilitas tetap menjadi kajian menarik di negara-nagara maju. Kasus-kasus yang diangkat dalam Journal of Population Economics umumnya mengambil kasus di negara maju.

Dan masalah serius yang tampaknya cukup banyak menyedot perhatian para pemikir ekonomi kependudukan di negara-negara maju adalah topik yang berkaitan dengan penuaan penduduk (ageing population). Kondisi penduduk di negara-negara barat yang sudah berstruktur “tua” membawa berbagai konsekuensi ekonomi tersendiri.Itulah sebabnya banyak tulisan di Journal of Population Economics yang mengkaji konsekuensi-konsekuensi ekonomi akibat dari penuaan struktur penduduk. Bagian berikut akan menyinggung secara sekilas tentang analisis ekonomi terhadap struktur penduduk yang menua.

3.Analisis Ekonomi Penuaan Penduduk

  1. Pengertian Penuaan Penduduk.

Sebelum membahas tentang bentuk-bentuk analisis ekonomi terhadap penuaan penduduk terlebih dahulu perlu dimengerti tentang apa yang disebut sebagai penuaan penduduk.Secara demografis, pengelompokkan “penuaan” penduduk dapat dilihat dari beberapa ukuran.Beberapa ukuran tersebut adalah15:

Rasio beban ketergantungan penduduk tua.

Dari indikator rasio beban ketergantungan suatu penduduk disebut sebagai”penduduk tua” jika angka ketergantungan penduduk tua (DR65+) sebesar 10 persen atau lebih. Atau jika angka ketergantungan penduduk muda (DR0-4) sebesar 30 persen atau kurang.Jika angka ketergantungan penduduk tua (DR65+) sebesar 5 persen atau kurang maka penduduk tersebut masih berstruktur “muda”.

Persentase penduduk tua

Suatu penduduk dikatakan berstruktur “tua” jika proporsi penduduk berumur 65 tahun keatas sudah diatas 7 persen; disebut “dewasa” jika proporsinya antara 4-7 persen,dan disebut “muda” jika proporsinya dibawah 4 persen (Info Demografi, April 1994).

Umur median penduduk

Ukuran lain untuk menyatakan “tua-muda” nya suatu penduduk dapat pula dilihat dari umur median penduduk tersebut. Umur median adalah umur yang membagi jumlah penduduk tepat menjadi dua bagian yang sama besarnya.Umur median 20 artinya bahwa lima puluh persen dari penduduk berumur 20 tahun kebawah dan lima puluh persen lainnya berumur 20 tahun ke atas.

2.Ekonomi Penuaan Penduduk.

Sebagaimana telah disinggung diatas perubahan struktur penduduk dari struktur muda ke struktur tua membawa berbagai konsekuensi ekonomi.Drissen dan Winden menyatakan bahwa dampak ekonomi dari penuaan penduduk merupakan suatu kajian yang kompleks. Peningkatan jumlah lansia memiliki konsekuensi yang luas baik secara mikro maupu makro ekonomi.Aspek lain yang menjadi topik menarik berkaitan dengan analisis ekonomi penuaan penduduk adalah masalah transfer ekonomi antar generasi. Dengan makinmeningkatnya jumlah penduduk lansia berarti beban biaya yang ditanggung oleh negara(yang menganut pandangan welfare state) bagi kehidupan lansia menjadi makin besar.Jika semua beban biaya harus ditanggung oleh negara maka tentu saja hal itu akan amat memberatkan beban keuangan negara. Itulah sebabnya perlu dirintis mekanisme pembiayaan lain yang tumbuh dari masyarakat langsung ke penduduk lansia. Salah satu mekanisme itu adalah melalui kajian terhadap transfer ekonomi antar generasi. Itulah sebabnya topik tranfer antar generasi (intergenerational transfer) menjadi salah satu kajian yang menarik perhatian.

Bagaimana dengan kajian ekonomi penuaan penduduk di negara berkembang seperti Indonesia? Apakah topik kajiannya juga sama dengan apa yang dilakukan di negara maju? Kajian ekonomi kependudukan –termasuk didalamnya ekonomi penuaan penduduk– di Indonesia belum banyak dilakukan. Khusus ekonomi penuaan penduduk belum dilakukannya terhadap hal tersebut bisa dipahami karena persoalan penuaan penduduk di Indonesia sendiri belum begitu mendesak pada tahun-tahun sebelumnya.Pada dasawarsa awal abad 21 baru persoalan penuaan penduduk diduga akan banyak menyedot banyak perhatian. Pada tahun 2000 diduga jumlah lansia di Indonesia akan mencapai 15,9 juta jiwa atau sekitar 7,6 persen dari jumlah penduduk dan akan meningkat menjadi sekitar 24 juta jiwa (10 persen) pada tahun 2015. Peningkatan jumlah lansia pada dasawarsa-dasawarsa mendatang akan membawa dampak ekonomi yang tidak ringan. Beban masalah yang ditanggung negara berkembang seperti Indonesia akibat penuaan penduduk mungkin lebih berat dibanding dengan di negara maju. Karena itu kajian ekonomi terhadap ekonomi penuaan penduduk di Indonesia menjadi amat penting untuk dirintis secara lebih serius.Topik-topik kajian ekonomi penuaan penduduk yang selama ini dilakukan di negara-negara maju –meskipun tidak semua relevan– bisa dijadikan sebagai bahan rujukan untuk menganalisis ekonomi dari penuaan penduduk di Indonesia. Kajian terhadap sistem perpajakan (khususnya pajak social security) barangkali belum begitu relevan dilakukan di Indonesia mengingat perpajakan di Indonesia tidak menganut earmarked system dimana penggunaan penerimaan ditujukan sesuai dengan tujuan peruntukkannya. Dan karena itu maka mekanisme pajak hampir tidak berkaitan (secara langsung) dengan isu jaminan sosial bagi penduduk lansia di Indonesia.Adanya variabel transfer ekonomi di data IFLS (Indonesian Family Life Survey)

memungkinkan dianalisis secara statistik determinant factors tersebut. Model logit(analisis logistik) berikut barangkali dapat diterapkan untuk menganalisis hal tersebut.

BAB 11I

PENUTUP

Ekonomi kependudukan memiliki aspek bahasan yang luas. Pada dasarnya (atau pada mulanya) ekonomi kependudukan mencakup ekonomi ketenagakerjaan, ekonomi pembangunan, ekonomi kesehatan atau bahkan ekonomi pendidikan. Namun perkembangan selanjutnya analisis masing-masing cakupan tersebut terus berkembang sehingga seolah-olah menjadi kajian tersendiri. Dalam perkembangan selanjutnya ekonomi kependudukan kemudian memfokuskan diri pada ekonomi mobilitas/migrasi, ekonomi fertilitas, ekonomi mortalitas dan ekonomi penuaan penduduk. Khusus untuk Indonesia, diskursus masing-masing bagian ekonomi kependudukan (ekonomi fertilitas,

ekonomi mobilitas dan ekonomi penuaan penduduk) tersebut tampak belum banyak tersentuh.Tulisan ini barulah langkah awal dari sebuah penjelajahan panjang yang perlu dilakukan terhadap apa yang disebut sebagai “ekonomi kependudukan”. Sebagai langkah awal, penulis menyadari bahwa tulisan ini mungkin baru menyentuh kulit permukaan.Banyak aspek, banyak sisi yang perlu terus diperluas dan diperdalam. Namun karena masih amat langkanya literatur ekonomi kependudukan dalam bahasa Indonesia maka penulis berkeyakinan bahwa tulisan ini memiliki bobot tersendiri dalam diskursus panjang tentang ekonomi kependudukan. Moga-moga tulisan ini bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alatas, Secha, Beberapa Aspek Ekonomi dari Migrasi Penduduk, Paper Series No. 12,Lembaga Demografi FEUI, Jakarta, 1993
  2. Ananta, Aris, Ruang Lingkup Teori Ekonomi Kependudukan, Paper Series No. 3,Lembaga Demografi FEUI, Jakarta, 1991
  3. Ananta, Aris (Editor), Ekonomi Sumberdaya Manusia, Lembaga Demografi FEUI danPAU Bidang Ekonomi UI, Jakarta, 1991
  4. Ananta, Aris & Hatmadji, Sri Harijati, Mutu Modal Manusia. Suatu AnalisisPendahuluan, Lembaga Demografi FEUI, Jakarta, 1985
  5. Ananta, Aris & Djajanegara, Siti Oemijati, Mutu Modal Manusia: Suatu PemikiranMengenai Kualitas Penduduk, Lembaga Demografi FEUI, Jakarta, 1986
  6. Becker, Gary S., A Treatise on the Family, Harvard University Press, London, England,1981
  7. Bos, Dieter & Sijbren Cnossen, Fiscal Implication of an Aging Population, Springer-Verlag, Berlin, 1992
  8. Boediono, Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi,BPFE, Yogyakarta, Cetakan III, 1985
  9. Djojohadikusumo, Sumitro, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Buku I Dasar Teori dalam Ekonomi Umum, Yayasan Obor Indonesia, 1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s